Patriotisme dan Kemurnian Sepakbola
1942, dimana perang dunia II sedang dalam masa puncaknya..
Uni Soviet, Kiev. Ya, kota asal dua klub eropa ternama saat ini : Dynamo Kiev dan Locomotive Kiev. Nazi, si akar perang, menyerang Kiev dan menyebabkan dua klub yang sudah terbentuk sejak 1927 itu bubar. Si kiper, Mykola Trusevych, yang kemudian bekerja di pabrik roti diminta bosnya, fans Kiev, untuk membuat tim untuk mewakili pabrik rotinya. Bersama 7 mantan pemain Dynamo Kiev dan 3 pemain Locomotive, terbentuklah FC Start. Semua tim lain kalah oleh tim baru ini, termasuk Flakelf, tim sepakbola milik Luftwaffe (Angkatan Udara).
Flakelf tak terima, mereka memintarematch, dengan wasit mereka sendiri..
Sudah bisa ditebak, hampir tak ada pelanggaran untuk Flakelf. Wasit bahkan sudah meminta Start untuk mengalah. Namun ada satu paradigma yang diusung pemain start kala itu :
Sepakbola lebih penting dibanding hidup dan mati dan mereka mempertaruhkan segalanya hari itu untuk sepakbola (dan untuk negaranya)
Banyak cerita simpang siur mengenai apa yang dialami para pemain FC Start setelah kemenangan tersebut, namun versi propaganda pemerintah Uni Soviet lah yang paling terkenal. Menurut versi ini, para pemain tersebut kemudian ditangkap, disiksa, dan dieksekusi satu persatu. Meski begitu, ada beberapa versi yang menyebutkan bahwa hanya ada empat pemain yang meninggal di tangan Nazi. Tidak penting versi mana yang benar, yang jelas, pertandingan itu memakan korban sebagai aftermath-nya. Mereka mati karena membela dua hal: tanah air mereka dan kemurnian sepakbola.
Kepahlawanan yang ditunjukkan para patriot lapangan hijau ini tidak luput dari memori rakyat Kiev. Zenit Stadium diganti namanya menjadi Start Stadium pada 1981 bersamaan dengan diresmikannya monumen FC Start. Di monumen tersebut ditulis (dalam Bahasa Ukraina) kata-kata ini:
“For our beautiful presence,
They fell in a fight
For ages your glory won’t fade,
The fearless hero-athletes.”
Agaknya petinggi PSSI harus membaca artikel ini. Bagaimana sepakbola seharusnya. Bukan sebagai lembah dosa, mengatasnamakan sportifitas untuk mengeruk keuntungan pribadi, menomorduakan semangat patriotisme demi kepentingan satu pihak..
(Source: twelveyardbox.wordpress.com)